Friday, November 30, 2007

Refleksi Seorang Pemimpi

Ikal telah terbang ke Paris untuk mewujudkan mimpinya, demikian tertulis di buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang juga diteguhkan di sekuelnya yang berjudul “Sang Pemimpi”. Seta Mulia saat ini tengah berada di dalam Cathay Pacific menuju Amsterdam setelah mengambil short break selama 10 hari di Kota Gudeg, Yogyakarta. Baru saja dia menyelesaikan membaca “Laskar Pelangi” dan sekarang memulai membaca Gadjah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa karya Langit Kresna Hariadi. Sulit baginya untuk berkonsentrasi kali ini. Selain karena pesawat yang berguncang karena turbulensi, juga berkelibatan di benaknya kisah-kisah singkat perjalanan liburan ini dan beberapa dialog yang mungkin menjadi penting dalam membantunya menentukan langkah selanjutnya.

Sejak surat terakhir yang dikirimkan kepada Rindu pada hari Rabu, 11 April 2007, telah banyak kejadian dan peristiwa yang membawanya ke dalam situasi yang berbeda. Seta telah berdiskusi untuk melanjutkan studinya sekaligus memperdalam apa yang dia mulai di major research project-nya. Juni yang lalu Lia mengunjungi Seta, sang suami tercinta dan berbulan madu di Amsterdam dan sempat ke Paris. Kunjungan tersebut dianugrahi Penulis Agung sosok janin (berjenis kelamin laki-laki berdasarkan USG pada pemeriksaan bulan kelima) di kandungan Lia.

Rindu dan Dinda telah tiada karena serangan suatu penyakit yang misterius. Mereka meninggalkan kita untuk memenuhi undangan Penulis Agung pada 15 Agustus 2007.
Sehari setelah menginjakkan kaki di Yogyakarta pada liburan ini, Seta dan Lia ditemani oleh Enade mengunjungi makam Rindu dan Dinda di Pemakaman Bethesda di daerah Terban. Saat itu, Enade bercerita tentang derita Rindu di saat-saat terakhir dan betapa berbinar mata Rindu ketika menerima telepon dari Seta sekitar seminggu sebelum perjalanan menuju keabadian itu. Enade kemudian melanjutkan ceritanya di Beukenhof, Kaliurang, sekaligus menikmati kenangan indah yang sering dilewatkan bersama Rindu di tempat itu. Cerita tentang Rindu dan Dinda, cerita yang perlu diketahui oleh Seta. Cerita yang ditutup dengan permintaan Enade untuk undur diri dari kehidupan Seta dan juga permintaan Rindu yang disampaikan lewat Enade untuk tetap semangat mewujudkan mimpi namun tetap mencurahkan kasing saying buat Lia dan bayi yang dikandungnya. Enade juga mengembalikan setiap surat yang telah dikirimkan Seta kepada Rindu. Saat itu hujan gerimis turun, dan setelah berpamitan Enade menghilang diiringi tirai gerimis yang membingkai pemandangan kota Yogyakarta.

Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan kegiatan di Fakultas Farmasi Universitas Sleman Timur (UST) maupun di Universitas Sleman Selatan (USS). Yang sangat dia nikmati adalah mengantar dan menjemput Lia ke kantor, suatu kegiatan yang tidak mungkin dia lakukan selama studi di Belanda. Satu hal lagi yang membuat Seta merasa berarti adalah mendapat kesempatan untuk mengantar Lia dan menemani konsultasi ke dokter kandungan. Saat itu sudah bulan kelima dan hasil USG berseberangan dengan prediksi Seta yang telah menyiapkan nama perempuan untuk bayinya: Emilia Harumia Mulia. Seperti nama Sunda yah? Tidak apalah, yang jelas nama itu tidak jadi dipakai jika bayi yang lahir berjenis kelamin laki-laki. Dan sekarang Seta harus berpikir lagi untuk mencari nama yang cenderung maskulin. Sempat terpikir olehnya untuk minta pendapat pada Langit Kresna Hariadi secara nama-nama yang digunakan dalam novel Gadjah Mada cukup bagus dan mempunyai arti yang indah pula.

Lamunan Seta kembali terbang ke saat-saat dia disibukkan oleh kuliah dan tugas-tugas sejak kedatangannya di Belanda. Rasa takut akan ketidakmampuan menyelesaikan kuliah sebagai konsekuensi tuntutan yang dirasakannya sangat tinggi selalu meliputi setiap langkahnya saat itu. Namun, keberadaan Lia yang selalu berdoa untuknya nun jauh di Yogyakarta, kebersamaan bersama teman-teman seperjuangan dalam menuntut ilmu di Belanda, serta kemurahan Tuhan yang disampaikan lewat berbagai cara yang ajaib telah menjadikan rasa takut itu sebagai semangat yang menyala-nyala guna menyelesaikan studi ini. Dan saat ini Seta telah sampai pada tahap akhir studinya, menulis thesis yang berupa literature study. Topik sudah ditentukan dan jadwal presentasi sudah didiskusikan. Ada kalanya jarak dan waktu menjadikannya lumpuh dan membunuh api yang menyala-nyala. Namun saat-saat itulah yang membuat dia mempelajari sesuatu untuk “melangkah lebih jauh”. Dan Seta masih berhasil hingga saat ini. Syukur kepada Allah.

Saat kepulangannya di Yogyakarta, Seta menyempatkan diri untuk membicarakan proses kelanjutan studi S3 dengan pihak dekan Fakultas Farmasi UST, Romo Utomo yang juga Rektor UST dan juga Romo Warta yang juga pihak yang berwenang di yayasan. Satu hal yang membuat Seta terkagum dengan UST adalah selain analisis dan evaluasi, refleksi merupakan pilar yang tidak terpisahkan. Seorang staff tidak hanya dituntut untuk berkarya dengan baik namun juga hidup sebagai manusia yang utuh. Hal ini tersirat dari pertanyaan Romo Warta mengenai tanggapan keluarga dan pandangan Seta terhadap keluarga terkait kelanjutan studi ini. Saat itu Seta tidak bisa menjawab dengan tegas dan Romo Warta meminta Seta untuk merefleksikan apa yang dia alami selama setahun ini dan menyampaikan dengan segera. Sayang, hingga saat ini Seta belum bisa menyampaikan dengan segera hasil refleksi yang dia lakukan. Hal ini dikarenakan liburannya yang singkat dipadati dengan berbagai kegiatan yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Refleksi belum terjadwal saat itu. Alasan lain yang membuat Seta belum menuliskan hasil refleksinya adalah dia ingin jujur melihat kembali apa yang telah terjadi dan dengan tenang dan hening merefleksikannya dalam sebuah tulisan. Seta berpikir bahwa refleksi ini akan lebih jernih dan jujur kalau dia menyelesaikannya di tempat dia menjalani kehidupan selama setahun terakhir, di Laan van Kronenburg 431.

Surat-surat darinya kepada Rindu, sepucuk surat dari Rindu kepadanya dan cerita Enade tentang Rindu serta coret-coretannya yang terselip di log book penelitiannya akan menjadi sumber otentik dalam melakukan refleksi tersebut, dilengkapi dengan perbincangan dengan Lia di malam-malam saat dia sedang liburan dan juga dengan keluarga setiap makan malam bersama yang tidak pernah dia lewatkan bersama keluarga saat liburan tersebut.

Seta tertidur. Perjalanan ini melelahkan baginya. Angannya yang melayang-layang juga cukup menyita energinya. Kisah Gadjah Mada di akhir karirnya setelah tragedi perang bubat juga menambah lelah, karena mimpi “Gadjah Mada” tidak berakhir seperti yang diharapkan karena ambisi yang tidak diredam oleh nurani. Seta merasa mendapat pencerahan membaca novel tersebut, namun juga lelah. Seta tertidur dengan perasaan dicintai meskipun lelah.

*******
“Gimana Mas? Perjalanan lancar?” tanya Mas Madi seraya menyongsong Seta yang baru saja keluar dari mengambil bagasi.

“Puji Tuhan, lancar Mas. Gimana kondisi Amsterdam? Aman dan terkendali pastinya?”

“Iyalah, aman dan terkendali. Lha wong pengacaunya sedang ke Djogdja.” Kami kemudian tertawa terbahak-bahak bersamaan.

Mas Madi menyempatkan untuk menjemput Seta di bandara. Seta merasakan anugrah yang dilimpahkan Penulis Agung kepadanya mengalir tiada henti. Sesampainya di Laan van Kronenburg, sekitar 15 menit dari Schiphol, matahari masih belum menampakkan batang hidungnya. Seta melirik ke arlojinya dan menghela nafas, sudah pukul 8.11 pagi.

“Musim dingin. Suasana jadi sendu ya Mas Madi?”

“Iya nih Mas Seta. Kapan ya turun salju Mas Seta? Belum pernah lihat salju nih.”

Seta tersadar bahwa Mas Madi baru saja datang ke Amsterdam untuk kuliah di VU Agustus 2007 ini. Musim dingin ini adalah musim dingin pertama bagi Mas Madi. Sekali lagi, anugrah Tuhan selalu hadir dalam berbagai wajah. Teman-teman periode lalu sudah pulang, hadirlah teman-teman baru periode ini. Rekan-rekan yang siap berbagi suka maupun duka. Rekan-rekan yang telah melintasi samudra guna mewujudkan mimpi-mimpi, serta berbagi mimpi.

“Mas Madi, sudah makan belum?”

“Belum Mas. Juga belum masak. Mas Seta mau masakin kah? Aku ada daging cincang dan sedikit nasi yang ditanak kemarin.”
“Oke, Sepertinya aku masih punya 2 bungkus mi instant.”

Seta dan Mas Madi sudah sampai di kamar Seta. Mas Madi pamitan untuk mengambil bahan makanan yang sudah disebutkan tadi sementara Seta membongkar bagasinya dan mulai menata satu demi satu. Semua oleh-oleh dan titipan sudah diletakkan teratur di atas meja. Baju-baju ditata rapi di lemari. Komputer dan barang elektronik lainnya dirakit sedemikian rupa sehingga nyaman untuk digunakan.

“Mas Seta, ini nasi dan daging cincangnya.” Mas Madi datang dengan penuh semangat. Lalu Seta mulai beraksi. Tangannya yang mewarisi keahlian masak dari ibunya dengan lincah menari diatas penggorengan dan mie goreng magelangan istimewa ala Seta Mulia telah siap disantap kurang dari 30 menit.

Selesai makan pagi bersama, Mas Madi pamitan untuk mengerjakan tugas bersama temannya. Dan setelah kenyang, rasa lelah dan bahagia menerpa Seta. Ternyata Seta hanyalah lelaki sederhana dengan kebutuhan yang sederhana pula: makan. Seta lalu tertidur setalah menghidupkan pemanas karena suhu hari itu telah mencapai 0 derajat celcius.

Sekitar pukul delapan malam Seta terbangun dan menyadari bahwa dia kembali sendiri sepi di kamarnya yang mungil di Laan van Kronenburg 431. Seta menyeduh kopi dan menyalakan sebatang rokok yang dibawanya dari Indonesia lalu menghidupkan komputernya. Dan Seta pun kembali ke kehidupan “normalnya”: bermain dengan script dan instalasi komputer. Mengembalikan komputernya untuk “normal” kembali sesuai yang dinginkan seperti sebelum liburan butuh waktu. Sudah 2 hari belum sempurna, namun Sabtu ini sudah bias menjalankan fungsi dasarnya. Dan Seta mulai duduk dan mencoba menuliskan hasil refleksi terkait studi lanjut ini.

“Pada mulanya adalah mimpi. Selama setahun di negeri Belanda ini banyak hal telah terjadi. Berpisah dengan istri tiga minggu setelah menikah. Menghadapi birokrasi negeri Belanda yang tidak kenal ampun dan berubah setiap saat. Adaptasi yang tidak pernah selesai karena terlalu banyak orang Indonesia. Terpaksa belajar memasak dan akhirnya jadi terkenal dengan mie goreng istimewa. Fasilitas studi yang lebih dari memadai. Masakan Indonesia mudah didapat disetiap sudut. Ah ternyata aku ini pria sederhana dengan keinginan sederhana: makan enak dan teman bercanda yang setia.”

“Perasaan gembira, sedih, bangga, terpuruk, selalu muncul pada setiap peristiwa. Namun secara keseluruhan, perasan bangga dan sepi yang sering menyelimuti. Jadi jika ditanya perasaan apa yang akan muncul nanti saat studi lanjut berikutnya, jawabnya adalah bangga dan sepi. Namun itulah konsekuensi dari sebuah pilihan. Andai ditanya, apa yang mendorong untuk mengambil pilihan-pilihan yang mungkin berat bagi sebagian orang ini, jawabnya kembali pada kalimat awal refleksi ini: Pada mulanya adalah mimpi.”

“Pernah seseorang bertanya padaku, apakah mimpimu Seta? Kujawab, sebagai seorang dosen, mimpiku adalah setiap mahasiswaku mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mimpiku saat menjadi mahasiswa S1 dulu adalah sekolah setinggi-tingginya di luar negeri dan menjadi bagian di garis depan peneliti di bidang penemuan obat. Dan sebagai teladan perwujudan mimpi adalah aku memilih untuk mengikuti arah angin ini dengan segala konsekuensinya. Dan kurasa itu penting bagi setiap mahasiswaku sebagai inspirasi dan juga teman berbagi.”

"Aku tadi sempat menyentil kata bahagia. Ya, aku bahagia mendapat kesempatan mengecap pendidikan tinggi di tempat dimana pendidikan merupakan kemerdekaan. Merdeka dalam arti fasilitas yang memadai dan merdeka dalam arti posisi yang sejajar baik dosen, mahasiswa S1, S2 maupun S3 dalam setiap diskusi ilmiah. Adu argumen bukan merupakan hal yang tabu dan sangat jamak, mengasah otak dan juga latihan untuk mengendalikan lidah. Lidahku ini kurasa terlalu tajam dan mematikan. Perlu latihan untuk mengendalikannya. Jika memang tujuannya adalah belajar, disini adalah tempatnya. Selain itu, Amsterdam merupakan kota yang lengkap jika membutuhkan 'refreshing', lengkap dari yang religius sampai yang misterius."

“Mungkin cukup mengungkapkan perasaan yang mengendap di hati dan budi ini. Sudah saatnya menjawab pertanyaan yang sampai saat ini belum diungkapkan jawabannya secara lugas dan tegas. Apakah aku akan mengambil peluang menjadi PhD student? Jawabnya adalah ya. Masihkah ada keraguan? Tidak. Bagaimana dengan keluarga? Ini adalah mimpi dan legenda pribadiku. Istri sebagai belahan jiwa, orang tua terutama mama yang sangat mengerti mimpi anaknya semenjak nafas pertama dihembuskan di bumi (dan juga mertua) sudah menyadari ini sejak lama, dan setiap pribadi tersebut adalah pilar-pilar yang sering “ditugaskan” Allah untuk meyanggaku saat-saat lemah. Dan Allah pasti tidak akan membiarkan aku jatuh dan rebah. Terharu aku saat menyampaikan adanya peluang ini, tidak seperti aku yang merasa ragu (saat itu), mereka semua menyatakan dukungan penuh dan dengan kasih sayangnya yang terpancar memompakan semangat ke dalam hati dan budi ini untuk mengambil keputusan melaksanakan kehendak mengambil peluang ini tanpa ragu lagi.”

Jemari Seta berhenti menari di atas keyboard laptop. Sebentar dia tersenyum dan menghela nafas panjang. Lapar. Dia melirik ke samping ke arah tempat dia menyimpan mie instant dan menemukan masih cukup banyak. Jadi untuk malam ini dan besok, masih aman dan terkendali. Seta kemudian menyimpan tulisannya dan mengubahnya dalam format pdf. Saat itu juga Seta mengirimkan hasil refleksi ini ke Romo Warta dan juga Romo Utomo.

1 Comments:

At Jan 31, 2008, 8:16:00 AM , Blogger yw-motivation said...

Wah memang bakat mengarang tenan..cerita-cerita ini harus dibaca dengan cukup lengkap dan waktu yang cukup ya....tapi perlu imajinasi yang selevel dengan TOEFL 550. Teruskan saja..aku yakin bermanfaat

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home