Saturday, February 02, 2008

Bunga Mawar di Ujung Koridor

Aku lelaki yang tidak suka bunga. Bunga memang indah, memberi warna tersendiri dan juga pertanda akan adanya kehidupan. Namun, bunga tetaplah bunga yang aku tidak suka. Mengapa aku tidak suka bunga? Aku tidak tahu, hanya saja tidak suka disini tidak sama dengan benci. Ketidaksukaanku pada bunga karena aku tidak mau bunga mengganggu kehidupanku, so aku juga tidak mengganggu kehidupan bunga.

Setiap hari aku keluar dari apartemenku dan menemukan bahwa bunga hari ini berbeda dengan bunga kemarin dan juga pasti akan berbeda dengan bunga keesokan harinya. Hari demi hari aku menyadari bahwa anginlah yang membuat bunga-bunga itu berubah. Angin yang berhembus entah darimana dan kemana, membawa serbuk sari untuk disebarkan pada tanaman yang menunggunya dan mengubah para bunga itu. Aku bukan angin yang berubah dan membawa perubahan pada bunga. Tapi, aku cemburu pada angin. Andai aku bisa mengendarai angin. Andai ...

Dan cerita ini sampai pula pada suatu ketika. Bunga mawar tumbuh di ujung koridor tempat aku tinggal. Aku tidak peduli. Kutemukan juga di ujung koridor tempat aku bekerja. Aku tidak peduli. Hadir bunga itu di ujung koridor kafe tempat aku duduk menikmati sebatang Dji Sam Soe dan segelas teh hangat setiap akhir minggu. Aku tidak peduli.

Kemarin malam aku berjalan dari kafe ke apartemen dan menemukan bunga mawar di ujung koridor mekar mewangi dan menyapa dengan takjub dan anggun. Dengan sopan aku menundukkan badan membalas sapaannya. Malam itu angin kencang sekali berhembus. Andai aku bisa mengendarai angin. Andai ...

Tadi pagi aku terbangun dengan letih kedinginan. Semalaman melawan rasa dingin yang dihembuskan angin melalui lubang di sela-sela pintu kamar tidurku. Tertatih aku bangkit menuju kamar mandi. Dan tidak kutemukan lagi bunga mawar di ujung koridor tempat tinggalku. Kucari di ujung koridor tempat kerjaku dan juga di kafe, tiada pula kutemui. Hanya kutemukan sisa langkah angin yang lewat tempat itu malam tadi. Angin kembali membawa bunga ke dalam perubahan. Juga bunga mawar yang menyapaku kemarin malam.

Aku berlari ke lantai teratas gedung apartemenku dan mengejar angin. Meloncat dari atap tertinggi berusaha menangkap angin dan mengendarai angin. Aku terbang, aku mengendarai angin, mencari kemana bunga mawar yang menyapaku pergi.
*******

Di koran hari ini tertera berita kecil di ujung kanan bawah halaman tengah. Ada seorang diduga menjatuhkan diri dari lantai tertingi apartemen dan jatuh tepat di taman bunga mawar biru yang tumbuh di tengah salju. Tidak ada tanda-tanda kekerasan ditemui. Di kamar tempat tinggalnya ditemui komputer dan televisi yang masih menyala. Empat bungkus snack coklat. Dji Sam Soe yang baru terbakar separo. Sop yang tidak dihabiskan dan segelas teh yang sudah dingin. Tidak ditemukan pesan terakhir.

Disclaimer: cerita ini fiksi belaka.

4 Comments:

At Feb 4, 2008, 7:00:00 AM , Blogger yw-motivation said...

Enade,
blogmu ki kok ra kaya blog-e scientist to..... kudune mlebu nang faculty of letter.
Btw. wis tau krungu nek isa transgenik-ke cyt P450 (1A1 apa 3A4 ya?) nang mawar....terus ditanem nang tanah sing mengandung indol...engko dadine maware biru lho......
he..he..he...nah kuwi nek pingin menghubungkan mawarmu karo science lho
iki dudu yosep tapi sing numpang nang blog-e Yosep. Siapa itu??????

 
At Feb 4, 2008, 7:05:00 AM , Blogger Enade "Dosen Gila" Istyastono said...

Sapa ya? Wah sudah kehilangan insting menebak. Biarkan saja waktu nanti yang menjawab he..he..he..

 
At Feb 5, 2008, 12:30:00 AM , Blogger Nun QN said...

Hmmm... cerita cantik yang mengalir seperti aliran air yang tertiup angin...
Ketika ruang yang meng'antara'i kehidupan mulai terasa begitu rapat dan pada gilirannya menjadi sesak, maka tempat yang sempurna adalah bersatu (baca: mentransformasi diri) dengan 'sang antara' itu sendiri. Dan jika pun kau bisa menyentuh bahkan mengendarai sang angin, maka pada saat yang bersamaan angin sudah 'menghilang'; karena percobaan menyentuhnya, telah menafikan sifat alamiahnya.. (hmmm mungkin beda kalo angin punya sifat seperti awan Kinton kali yaa...). Hilangnya sang mawar, merupakan bukti keberadaan sang angin. Jadi, mari berspekulasi: hilangnya si mawar atau pengukuhan kehadiran sang angin yang membuat si tokoh gelisah dan berakhir?

 
At Feb 5, 2008, 10:09:00 AM , Blogger Iman Brotoseno said...

sudah cukup orang Indonesia bunuh diri di negeri Malaysia, Singapore dan Arab saja..he he

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home