Saturday, September 30, 2006

Enade dan Rindu

Itu surat terakhir yang ditunjukkan Rindu padaku, yang hendak dikirimkannya kepada Seta. Dia meminta pertimbanganku apakah surat ini dikirimkan atau tidak. Ini surat ketujuh yang ditunjukkannya kepadaku. Keenam surat yang lain adalah surat dari Seta untuknya. Aku tidak habis pikir, Seta ini maksudnya apa? Aku jadi kasihan pada Rindu.

"Kak En, aku harus bagaimana?"
"Aku juga sedang memikirkan hal ini. Aku bingung juga. Kau ini aneh. Kau tahu aku menaruh hati padamu meski kau pernah bilang kau akan fokus menyayangi Dinda. Eh, kau malah meminta pertimbangan ini padaku."
"Maaf, Kak. Aku tidak tahu harus meminta pertimbangan siapa lagi?"
"Kalau aku mengikuti perasaanku jawabnya adalah: Campakkan saja si Seta ini! Dia hanya mikir dirinya sendiri. Memikirkanmu dan Dinda hanyalah basa-basi."
"Kakak! Kak Seta tidak demikian. Andai dia hanya basa-basi pun, aku tulus mencintainya meskipun aku tidak bisa memilikinya."

Gubrak ...

Perkataan itu menusuk dan dada ini terasa perih
Serasa diiris sembilu dengan bumbu daun sereh

Halaah....

Aku tahu itu alasan sebenarnya Rindu menolak cintaku, bukan Dinda, namun aku tidak mungkin memaksa. Itu bukan gayaku. Sebenarnya aku merasa dalam posisi yang aneh sekarang. Ha...ha....ha.... Enjoy aja lagi. Toh Seta ada jauh disana dan Rindu ada di sini.

"Rindu, terserah kamu saja. Dengarkan saja kata hatimu yang paling dalam dan lakukanlah itu."

Wuih.... Aku koq bisa bijak juga. Sebentar ..... kuingat-ingat, oh ya, kalimat itu kubaca di sebuah buku karangan Anthony de Mello SJ. Kalau tidak salah, judulnya "Burung Berkicau".

"Aku bingung Kak. Aku tahu Kakak menaruh hati padaku, namun aku begitu dalam mencintai Kak Seta. Dia hadir sebagai seorang penolong saat aku sendirian. Kakak tahu kan, saat aku mengandung Dinda dan ayahnya tidak bertanggung jawab serta orang tuaku tidak mau mengenal aku lagi, Kak Seta lah yang selalu menolongku dan mendampingiku dengan tulus. Aku tidak mungkin melupakan itu. Aku cukup bahagia dengan kondisiku seperti ini, namun kadang perih juga memikirkan bahwa orang yang kucintai adalah milik orang lain. Aku tahu memang Kak Eta lah yang mampu membuat Kak Seta bahagia. Aku hanya merepotkan Kak Seta saja."
"Sudah Rindu, jangan berkata demikian. Kau seharusnya bersyukur ada Seta yang selalu melindungimu saat itu. Namun sekarang kondisinya lain, dia ada jauh di sana. Terserah kau, kau punya pilihan untuk mengirim surat itu atau tidak, namun itu tidak akan mengubah keadaan bahwa Seta jauh diseberang sana dan bukan milikmu. Dampak kau mengirim surat itu hanyalah kau lega, itu saja. Dan mengenai perasaan Seta yang membaca. Itu urusan dia. Ikutilah kata hatimu saja. Aku hanya bisa berkata padamu, Seta hanya ingin kau bahagia."

Sebenarnya aku ingin berkata, "Seta itu tidak peduli ama kamu. Dia menolong kamu hanya karena ego dia saja. Aku, aku lah yang peduli ama kamu. Aku lah yang ingin melihat kamu bahagia." Namun aku tidak mengucapkan itu karena aku hanya ingin melihat Rindu bahagia. Aku bahagia melihat Rindu bahagia, meski aku bahagia jika Rindu bahagia karena aku.

"Terima kasih Kak En. Aku pamit dulu. Aku akan kirimkan saja surat ini. Setidaknya aku tidak mengatakan bahwa aku mau putus hubungan dengan Kak Seta. Meski memang beberapa hal yang kutulis bertentang dengan keinginanku. Aku ingin Kak Seta ada di sini dan tidak pernah lupa untuk sekedar mengucapkan selamat malam. Namun semoga ini yang terbaik untuknya. Aku pulang dulu. Sekali lagi, terima kasih."
"Maaf, aku tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Salam buat Dinda."

Lalu kutemani Rindu sampai pintu keluar. Dan aku sendiri lagi malam ini. Aku tidak punya keberanian untuk memintanya tinggal.

5 Comments:

At Oct 7, 2006, 10:42:00 AM , Blogger Ronan Jimson said...

Hi , I want to introduce you to http://freearticle.name

 
At Oct 10, 2006, 4:30:00 PM , Blogger Priambodo said...

hmm....may i hv ur address????

 
At Jan 18, 2008, 4:16:00 AM , Blogger Ulat Sagu Tattoo said...

whew,,,, how lucky this rindu, kenapa dia milih si seta yang ga jelas, dan menolak cinta yang jelas-jelas buat dia tsk...tsk...tsk
"Begitulah cinta deritanya tiada akhir"-Cu Pat Kai babinya sun go kong- hehehehe
tetap semangat... find some one who treasure your love :)

aku jadi inget lagunya once yang lagi in banget di indo gini kata2nya
"Aku mau mendampingi dirimu...
Aku mau cintai kekuranganmu..
Selalu bersedia bahagiakanmu...
Apapun terjadi...
Kujanjikan aku ada..."

cheers

 
At Jan 18, 2008, 5:00:00 AM , Blogger Ulat Sagu Tattoo said...

waiittt,,,, who is this enade dan seta?
is enade = seta?
what a complicated life you have man,,,
atau semua ini cuma fiksi aja?
is rindu real?

 
At Jan 18, 2008, 11:49:00 AM , Blogger Enade "Dosen Gila" Istyastono said...

@sisilia: seperti disclaimer yang ditulis di pojok kanan atas blog "sebagian besar kejadian adalah fakta (jadi ada yang fiktif), dan sebagian besar pelaku adalah fiktif (jadi ada yang fakta)".

Is Rindu real? Nope. Tokoh rindu, enade, dan dinda dalam cerita ini tidak real. Namun ada beberapa kejadian fakta yang kulekatkan pada Rindu, Enade dan Dinda.

Enjoy ...

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home